Data Sektor Kawasan Industri Semarang Raya Q2 2026

SUTAMI – Colliers Indonesia menerbitkan data riset Perkembangan Sektor Properti Q2 2026 untuk JaBoDeTaBek, Bali, dan Semarang.

Sektor Kawasan Industri Semarang Raya

Total pasok 4.100 hektar. Pertambahan pasok dari ekspansi kawasan eksisting.

Potensi tambahan pasok sekitar 2.700 hektar, hingga tahun 2030.

Permintaan

Bergeser dari dominasi industri padat karya ke sektor manufaktur yang lebih beragam.

Data center mulai muncul sebagai permintaan baru.

Investor asing kini lebih memilih menyewa gudang atau pabrik jadi sebelum membeli lahan.

Harga lahan

Naik 8% per tahun selama 2023-2025. Namun harga lahan masih lebih kompetitif dibanding wilayah lainnya di Pulau Jawa.

Transformasi keunggulan biaya menuju ekosistem industri

Lahan tersedia mayoritas terkonsentrasi di Industropolis Batang sebagai kawasan yang relatif baru dikembangkan. Pertumbuhan industri menggerakkan properti di sekitarnya.

Rata-rata penjualan mencapai sekitar 120 hektare per tahun (2023–2025). Penjualan Semester I 2026 telah mencapai hampir 50% dari rata-rata penjualan tahunan.

Permintaan diperkirakan tetap kuat hingga akhir tahun, didukung aktivitas manufaktur dan mulai berkembangnya sektor data center.

Sektor Penyerap Lahan Industri pada Semester I 2026 Total serapan = 51 ha.

Serapan sektor industri; Tekstil 38%, Data Center 28%, Garmen 16%, Aksesoris 15%, dan Farmasi 3%.

Rerata Harga Lahan berdasarkan Wilayah; Demak dan Batang mendekati angka IDR 2 juta/m2, Kendal harga IDR 2juta/m2, dan Semarang di antara IDR 3juta/m2.

Rentang harga lahan masih berada di bawah dua pasar industri terbesar di Pulau Jawa. Merupakan alternatif relokasi maupun ekspansi manufaktur.