Infrastruktur perkeretaapian urban modern di Jakarta berkembang begitu pesat. Keberlanjutan pembangunan koridor ke koridor jalur kereta api cepat massal (MRT) dan light rapid transit (LRT) melukiskannya. Ilmu dan teknologi yang sebagian besar berasal dari luarpun telah terserap penuh oleh tenaga konstruksi domestik. Wika Beton berandil penting.
Di tengah pasar infrastruktur yang tidak sedang mudah, Vice President of Business & Corporate Strategy WIKA Beton, Yomil Ravianda, memilih membaca arah WIKA Beton dengan kacamata yang lebih jernih: kembali ke inti bisnis, tetapi tidak berhenti pada cara lama.
Pracetak tetap menjadi rumah utama perusahaan. Namun, dari rumah itulah pintu baru dibuka, terutama di segmen railway system yang menuntut presisi, standar tinggi, dan keberanian mengambil pasar yang belum ramai pemain.
Blue Ocean Strategy/Market – menggambarkan konsep ruang pasar baru yang belum terjamah. Bukan berarti meninggalkan beton pracetak, melainkan memperluas nilai dari produk yang selama puluhan tahun menjadi kekuatan WIKA Beton.
Dari bantalan rel, girder, slab track, hingga segmen terowongan, kompetensi manufaktur itu kini dibaca sebagai modal untuk masuk lebih jauh ke pekerjaan engineering, procurement, installation, bahkan commissioning pada proyek perkeretaapian perkotaan.
Jejaknya sudah terlihat. Pada Proyek LRT Jakarta Phase 1A, Kelapa Gading-Velodrome, WIKA Beton tidak hanya memasok komponen beton pracetak seperti PC Box Girder, PC Spun Pile, PCI Girder, PCU Girder, PC Sleepers, PC Bearers, Traffic Concrete Barrier, Slab Track, dan Ready Mix Concrete.
Perusahaan juga menyediakan desain konsep dan instalasi untuk pekerjaan viaduct serta trackwork dengan sistem ballast-less slab track. Di proyek ini, total panjang PC Box Girder yang dirangkai mencapai sekitar kurang lebih 4 kilometer, sementara nilai kontrak yang pernah dilaporkan mencapai sekitar Rp1 triliun.
Dari proyek itulah pengalaman WIKA Beton di urban railway mulai terbentuk. Yang semula berangkat dari produk beton, pelan-pelan berkembang menjadi kompetensi sistem: bagaimana rel dipasang, bagaimana jalur dijaga presisinya, bagaimana struktur pracetak bertemu dengan kebutuhan operasi kereta, dan bagaimana pekerjaan konstruksi tidak berhenti pada produksi material.
*** Baca di Emagz sutami 009 bagaimana perjalanan Wika Beton di urban railway sistem hingga hari ini

