Roadmap Pembangunan Jaringan Kereta Api Trans Sumatera

SUTAMI – PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengungkapkan rencana pengembangan jaringan kereta api di Pulau Sumatra.

Pengembangan itu ditujukan untuk menciptakan konektivitas rel yang terintegrasi dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung.

Panjang jalur yang akan dikembangkan pada tahap awal itu mencapai sekitar 478 kilometer.

Saat ini, KAI tengah menyiapkan detail engineering design (DED) sebagai bagian dari tahapan perencanaan proyek.

Kebutuhan investasi untuk membangun jaringan rel yang terhubung dari ujung ke ujung Pulau Sumatra diperkirakan mencapai sekitar US$ 20 miliar atau Rp 350 triliun.

Dalam Rencana Kerja dan Roadmap Transformasi Korporasi Tahun 2026-2030:Peningkatan Kapasitas dan Kenyamanan, proyek prioritas tahap awal berada di Sumatra Utara dan Aceh melalui reaktivasi jalur mati sepanjang 478 kilometer dengan rincian lintas Lhokseumawe-Langsa-Besitang 248 kilometer.

Terdapat juga rencana reaktivasi jalur Banda Aceh-Sigli sepanjang 80 kilometer dan Sigli-Bireuen-Lhokseumawe sekitar 150 kilometer.

Reaktivasi jalur mati juga dilakukan di Sumatra Barat dengan total panjang 248 kilometer.

KAI juga menyiapkan pembangunan jalur baru sepanjang 1.110 kilometer yang masuk dalam Rencana Induk Perkeretaapian Nasional (RIPNAS). Total pembangunan jalur baru mencapai 1.110 kilometer.

Beberapa koridor yang direncanakan antara lain Rantau Prapat-Dumai, Duri-Pekanbaru, Pekanbaru-Rengat, Rengat-Jambi, Kertapati-Tarahan-Bakauheni, hingga Lubuklinggau-Bengkulu.

Di sektor logistik, KAI juga merencanakan pengembangan jalur angkutan batu bara Tanjung Enim Baru-Tarahan II dengan total penambahan kapasitas sepanjang 313 km.

Program tersebut mencakup pembangunan jalur pintas Tanjung Enim-Stasiun Belatung sepanjang 60 km, peningkatan kapasitas jalur eksisting Stasiun Belatung-Stasiun Tegineneng sepanjang 203 km, serta pembangunan jalur lanjutan Tegineneng-Pelabuhan Tarahan II sepanjang 50 km.