Jakarta Provoke!

Di lanskap publik Taman Menteng, karya seni dan warga penghuni kotanya bertemu. Jakarta Provoke! menjadi cara bagaimana karya-karya seni kontemporer dapat mendekat dengan masyarakat.

Di tanah lapang penuh sejarah inilah 25 perupa dan kuratornya “membicarakan” kota dan bangsanya dalam karya seni. Pameran seni rupa kontemporer ini merupakan gelaran kolaborasi Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta bersama Yayasan Artpora Jakarta Provoke!

Jakarta Provoke! kali ini unik dan penuh tantangan dibanding pameran-pameran yang hanya berada di dalam ruang. Ada 15 titik di luar ruang untuk karya tiga dimensi, sedangkan karya dua dimensi berada di dalam ruang, di bangunan kaca 1 dan 2.

Tak ada tema khusus memang, namun dari karya-karya yang tercipta dapat saling terhubung ke beberapa persoalan yang terkait dengan Jakarta itu sendiri. Mengawali perjalanan ruang pamer terbuka, dua buah Becak membuka ingatan masa lalu kota Jakarta. Karya Jimmy Silaen berjudul “Bersiasat #2: Becak – Ruang Publik”

Kursi penumpang di kedua becak dibuat menyambung menjadi setengah lingkaran, persis membentuk sofa. Di karya ini kita seperti diajak untuk duduk, boleh sambil mengulang kembali ingatan akan kota lama, atau boleh juga bersantai bermain Ludo yang ada di atas meja kecil di hadapan “sofa”. Di atas becak, ada miniatur rumah yang bertumpuk.

Tentu ini semua adalah metafora. Dalam catatan kuratorialnya, Becak yang dahulu bergerak di jalan kini berhenti, namun justru di titik berhenti itu ia mulai bekerja sebagai ruang temu. Ia tidak lagi mengangkut tubuh, melainkan mengangkut ingatan, cerita, dan kebersamaan.

Dalam posisi diam, becak justru menjadi politis. Ia menolak dilupakan; memilih hadir sebagai artefak hidup, sebagai strategi kultural untuk tetap relevan di tengah kota yang terus menyingkirkan yang lambat. Tulisan-tulisan grafis pada badan becak adalah jejak suara jalanan: spontan, cair, dan tidak resmi.

Di atas becak berdiri gambaran rumah-rumah urban yang sempit dan rapat – simbol masyarakat kecil yang justru menggerakan perekonomian kota. Permainan Ludo, gambaran strategi bertahan, benturan kepentingan dan perebutan ruang hidup yang sering mengabaikan mereka.

Selain becak, motor vespa juga menjadi metafora dari seniman Kusmei Santo, berjudul Daya Tahan dalam Rangka Besi dan Ingatan. Keduanya dan sebagian besar karya yang dipamerkan seolah membicarakan problem kota Jakarta. Mulai dari masalah transportasi, urbanisasi, hunian, kemiskinan, polusi, kemacetan dan sebagainya.

*** Baca di Emagz sutami 009 bagaimana karya seni kontemporer lainnya berbicara lantang