Kementerian PKP, Perindustrian, dan Cemindo Bahas Material Green Cement

SUTAMI – PT Cemindo Gemilang Tbk produsen Semen Merah Putih terus mengembangkan portofolio green cement yang relevan dengan kebutuhan pasar dan arah kebijakan pembangunan nasional.

Untuk itu, pembahasan green cement kali ini Cemindo mengundang para pakar dari Kementerian PKP dan juga Kementerian Perindustrian.

Kepala Pusat Industri Hijau Kementerian Perindustrian, Apit Pria Nugraha menjelaskan, Kemenperin saat ini mengedepankan kebijakan-kebijakan yang mendorong terciptanya permintaan (demand) akan produk-produk industri. Termasuk green cement di antaranya.

Material standar industri hijau menentukan kualitas hasil pembangunan sekaligus efisiensi penggunaan sumber daya alam. “Ke depan akan juga diterapkan pengukuran jumlah minimum emisi per meter persegi sebuah bangunan,” ujar Apit.

Sedangkan,  Kepala Sub Direktorat Wilayah I, Direktorat Pembangunan Perumahan Perkotaan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), Adji Krisbandono, menjelaskan kondisi perumahan di tanah air beserta juga potensi ke depannya.

Untuk program Kementerian PKP, Apit menyebutkan, tengah mendorong teknologi konstruksi rumah, kolaborasi internal, rumah swadaya, hingga penerapan rekayasa teknik.

Adji mengungkapkan, Kebutuhan hunian di kawasan perkotaan masih sangat besar, terutama untuk MBR. Pertumbuhan urbanisasi yang tinggi membuat backlog perumahan menjadi salah satu tantangan nasional yang perlu ditangani secara berkelanjutan.

“Ada 26 juta rumah yang harus direnovasi, dan 99 juta masyarakat Indonesia yang belum memiliki rumah, ini menjadi potensi bagi industri semen nasional,” ungkap Adji.

Sejalan dengan arah kebijakan tersebut, Commercial & Logistic Director PT Cemindo Gemilang Tbk, Surindro Kalbu Adi, menyampaikan Semen Merah Putih terus memperkuat efisiensi energi sebagai fondasi transformasi industri.

Saat ini, perusahaan mengoperasikan Waste Heat Recovery System (WHRS) dengan total kapasitas 2 x 15 MW di Indonesia dan 13 MW di Vietnam, yang mampu menyuplai sekitar 24 persen kebutuhan energi proses produksi klinker dan berkontribusi pada penurunan emisi sekitar 100 ribu ton CO₂ per tahun.