Marasabessy Negeri Kailolo

Marasabessy, mengandung arti cahaya yang lembut atau cahaya di atas cahaya. Dari kelembutan cahaya ini, Negeri (desa) Kailolo menampakan pesona alam dan perjalanan siar Islam di Pulau Haruku, Maluku.

Berjalan dari area penyeberangan kapal menuju ke pusat pemukiman penduduk, maka jalan utama desa dibelah oleh jajaran makam yang panjang. Yang unik salah satu makam berbentuk rumah besar berwarna merah putih dan kuning. Makam itu merupakan makam Kapitan Akipai. Panglima perang dan tokoh sejarah penting dari wilayah jazirah Uli Hatuhaha.

Masih sisi pinggir pantai di ujung desa, terdapat makam Kiyai Abdurrahman Marasabessy, tokoh nasional di Maluku yang berjuang melawan penjajah. Penggunaan kata lokal marasabessy sebagai pengganti nama marga al-haddad, ini dilakukan untuk mengelabuhi kejaran para penjajah saat itu.

Selain itu juga terdapat makam Makam Syekh Datuk Maulana Zainal Abidin (Ali Zainal Abidin) di atas bukit Negeri Kailolo. Berdasarkan tradisi tutur masyarakat adat, beliau diyakini sebagai keturunan Rasulullah SAW (dari garis keturunan Husain bin Ali) yang membawa dan menyebarkan Islam pertama kali di Pulau Haruku sekitar abad ke-8 M.

Di sampinya terdapat makam makam Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), salah satu tokoh Walisongo. Kedua makam di atas bukit ini sangat terawat dan menjadi pusat ziarah utama.

Kailolo dikenal sebagai kampungnya para kiai, karena kuatnya tradisi keislaman dan banyak tokoh ulama lahir di negeri itu. Dahulu, sesuai riwayatnya, Kailolo memiliki hubungan khusus dengan Muslim Arab, yang dulunya merupakan salah satu bagian dari kerajaan Islam Uli Hatuhaha di kepulauan Maluku pada abad ke-14 Masehi.

*** Baca di Emagz sutami 009 perjalanan sutami selengkapnya di Pulau Haruku ini