Pasca Gita (Jaya)
Maecenas dan Kemandirian Seni
Periset
Panca Lintang Dyah Paramitha & Ganda Swarna
Membicarakan Ali Sadikin hari ini adalah membicarakan tentang sikapnya yang berpihak sesuai kapasitas yang ia miliki ketika menciptakan regulasi. Tentang manuvernya dalam bernegosiasi di tengah keosnya keadaan negara. Tentang posisionalitas kuasa-penguasa-dikuasai. Yang kita pijak dalam pameran arsip kali ini, posisinya berada diantara perspektif pusat dari arsip-arsip arus utama yang ada di Komisi Arsip DKJ, dengan perspektif kami sebagai periset yang mengambil jarak terhadapnya.
Pameran ini mengadaptasi kata “Gita (Jaya)”, yang berasal dari judul Buku “Gita Jaya” yang ditulis oleh Ali Sadikin sebagai catatan selama masa jabatnya sebagai gubernur (1966-1977). Bang Ali- begitu sapaan akrabnya dari publik, julukan dan panggilan “Bang” yang kita sadari sebagai “pengemong”, atau “pamong”.
Seperti yang ditulisnya dalam kata pengantar Gita Jaya : “buat saya tugas sebagai Gubernur tidak lain merupakan penempatan sebagai pamong. Untuk dapat menjalankan fungsi pamong dengan baik saya harus peka dan tanggap terhadap sistem”.
Ia juga menyatakan, kepekaannya terhadap amanat rakyat ditempa oleh pers dan media massa yang bersikap integritas dan adil. Oleh karenanya, catatan laporan sekaligus reflektif yang ditulisnya sebagai penguasa, menjadi titik pijak kita dalam membahas sikapnya sebagai orang yang punya kuasa dalam mengendalikan gerak kota.
Jaya yang berada dalam kurung pada judul, adalah metafor dari hasrat penguasa yang kami tangguhkan, untuk tidak segera mengultuskan Ali sebagai tokoh penguasa. Sebab bagaimana kita melihat suara/gita kejayaan, di Tengah masifnya represi dan kontrol terhadap suara rakyat, layaknya Panoptikon yang bekerja dalam algoritma hari ini.
*** Baca di Emagz sutami 008 bagaimana periset mengkaji Bang Ali dengan mimpi menciptakan Jakarta sebagai kota kebudayaan

